Seminar Technopreneurship

Hari Sabtu yang lalu (7/10/2017) baru saja diadakan acara SEMINAR TECHNOPRENEURSHIP, bertempat di Aula FISIP UNSOED. Seminar yang dipanitiai langsung oleh UKM ITC MIPA UNSOED ini terbuka untuk umum dan merupakan acara rutin yang diadakan setiap tahunnya. Tentu saja tema yang diusung selalu menarik dan up to date dengan isu-isu dunia kewirausahaan terkini. Hal ini dimaksudkan agar para mahasiswa maupun masyarakat umum sekalipun dapat mengetahui bagaimana pengusaha-pengusaha yang sukses di luar sana merintis usaha mereka mulai dari nol hingga dapat bertahan sampai saat ini.Tema yang diusung pada tahun ini adalah “Membangun Jiwa Wirausaha yang Kreatif, Inovatif, dan Solutif¬† Berbasis Teknologi”, membahas bagaimana TECHNOPRENEURSHIP berkolaborasi dengan teknologi yang mumpuni menjadi tonggak masa depan Indonesia, menarik ya! Bukan hanya tema nya saja yang menarik, acara seminar ini secara keseluruhan pun sangat menarik dan sangat disayangkan bila terlewatkan. Terbukti, peserta seminar tak hanya yang berstatus mahasiswa UNSOED saja, melainkan datang dari berbagai instansi/universitas di luar UNSOED juga.
Saya tekankan tentang bagaimana suatu ide itu bisa tercipta dan bagaimana mengembangkan ide tersebut agar menjadi ide yang tak biasa. Melalui seminar ini, semoga teman-teman mahasiswa  menjadi lebih berani dalam memulai usaha nya untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Launching Buku Technopreneur

Dewasa ini penguasaan dunia usaha lebih banyak dikuasai oleh mereka yang memegang kendali teknologi komunikasi dan informasi. Artinya pihak-pihak yang mampu memanfaatkan teknologi inovatif lah yang akan terus eksis di dunia bisnis. Di zaman nenek moyang kita, masyarakat hanya mengenal sistem perdagangan yang dilakukan secara tatap muka. Akan tetapi dengan semakin merebaknya teknologi internet ke berbagai lapisan masyarakat, transaksi perdagangan dapat dilakukan secara jarah jauh atau yang lebih dikenal dengan istilah jual beli online.
Nah, untuk menyikapi tren semacam ini, penguasaan akan teknologi informasi dan komunikasi (IT) yang dipadu dengan keahlian berwirausaha (technopreneurship) merupakan kunci utama dalam meraih kesuksesan di bidang bisnis online. Siapapun bisa menjalankan bisnis online, bahkan bagi mereka yang tidak memiliki modal seperpun. Dengan adanya sistem penjualan dropship, seseorang
dapat menjual beragam produk secara online tanpa harus
memiliki stok produk yang dijualnya. Seseorang dapat
memperoleh penghasilan tambahan (passive income) dari
program afiliasi seperti Google Adsense yang mereka ikuti.
Nah, secara lebih terperinci beberapa strategi yang berkaitan
dengan bisnis online dijelaskan dalam beberapa pembahasan
pada buku ini.
Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami,
buku yang berjudul “Menjadi Technopreneur Sukses” ini
mencoba menjelaskan seluk-beluk dunia technopreneurship
serta bagaimana meraih kesuksesan dari dunia online. Selain
itu, di dalam buku ini juga dibahas mengenai kesuksesan para
technopreneur muda tanah air yang berhasik mengepakkan
sayap bisnisnya di dunia bisnis online.
Melalui tutur bahasa yang mudah dicerna, buku ini
sangat ideal bagi mereka yang ingin menekuni bidang bisnis
online, baik dari kalangan mahasiswa, akademisi, dosen,
guru, maupun masyarakat umum. Selamat Membaca.

Maaf Saya Bukan Orang Gajian Lagi

Oleh : Agus Ali
BERPINDAH status dari orang gajian menjadi pengusaha membutuhkan persiapan mental dan strategi yang matang.
Keterbatasan modal bukan halangan.

Posisinya sebagai project manager membuat Mohamad Rosihan, 36, tahu betul jika dengan hanya dua proyek besar, perusahaan tempatnya bekerja bisa menutup biaya operasi selama setahun penuh. Tak puas hanya menikmati cipratan proyek itu saat gajian, Rosihan pun segera memutuskan untuk pindah kuadran. Namun, ia mengaku cukup hati-hati untuk berpindah status, dari seorang pekerja jadi pebisnis.

Alumnus Institut Teknologi Bandung ini terlebih dahulu menguji kemampuannya sebagai seorang self employeepada bisnis konsultan teknologi informasi yang dikelolanya sejak 2002. “Modalnya, sebuah proyek senilai Rp30 juta, saya pikir cara ini bisa membuat saya memperoleh seluruh nilai proyek, tak seperti pekerja yang cuma dapat gaji,” kata Rosihan.

Selama setahun ia mencicipi pengalaman repotnya mempekerjakan diri sendiri pada bisnis yang dikelolanya. “Namanya berbisnis di sektor jasa yang knowledge based itu memang akan melelahkan. Semuanya bergantung pada kita, proses pendelegasian berjalan lamban dan sulit,” kata Rosihan.

Karena sadar bahwa keleluasaan mengatur waktu dan melakukan inovasi, dua hal yang selama ini diimpikannya saat mulai berbisnis, nyaris mustahil terwujud jika ia tetap bertahan di kuadran self employee. Ia pun segera banting setir. Sejak 2004, ia menggeluti bisnis ritel fesyen muslimah. “Memang harus ada shortcut, untuk beralih dari self employee menjadi seorang business owner. Orang sering heran, kok seorang dengan latar belakang teknologi informasi seperti saya bisa bisnis baju, padahal ini shortcut saya,” kata Rosihan.

Bisnis barunya itu ternyata jauh lebih dahsyat daripada perkiraannya. Pendapatan 10 kali lebih besar daripada gaji berhasil dibukukannya hanya dalam waktu enam bulan. Kini di saat sepi, toko-tokonya bisa membukukan omzet Rp30 juta hingga Rp60 juta. Di saat panen Lebaran, bisa mengalirkan perputaran uang hingga Rp150 juta sampai Rp450 juta.

Jalur aman Menjalankan bisnis berbasis self employee, seperti yang dilakukan Rosihan di awal perjalanannya sebagai pengusaha, kata Aidil Akbar, Chairman International Association of Registered Financial Consultant (IRAFC), adalah langkah pindah kuadran yang paling tepat.

“Lakukan dari yang mudah dulu, beli franchise atau jadi self employee bisa jadi pilihan. Begitu pula saat akan berpindah dari tahap pekerja yang juga pebisnis sampai total fokus usaha. Buat yang biasa jadi orang gajian, semuanya harus dipersiapkan secara terencana dan bertahap, baik itu dari segi manajemen maupun keuangan,” kata Indonesia Senior Partner Pavilion Wealth Management itu.

Hal senada juga diungkapkan Yanti Isa, 41, pendiri PT Magfood Inovasi Pangan. Ia baru memutuskan untuk total jenderal di bisnis bahan pangan dan makanan cepat saji setelah tujuh tahun menjalankan bisnisnya. “Padahal, setelah dua-tiga tahun, saya sudah balik modal. Karena saya ingin benar-benar menjadi business owner dulu sepenuhnya, baru saya melepas pekerjaan di tahun ketujuh,” kata Yanti.

Kini, setelah tujuh tahun berbisnis, Yanti mengaku pendapatannya sebagai pebisnis belum menyamai gaji dan keuntungan yang ia terima sebagai direksi di sebuah pabrikan bahan pangan ternama. “Karena, saya memilih untuk tidak mengambil semua penerimaan dari hasil bisnis. Saya memilih untuk menginvestasikannya kembali, misalnya untuk beli properti,” kata Yanti yang mengaku kini mesin bisnisnya bisa membukukan omzet Rp500 juta per bulan.

Jika Yanti menjadikan indikator statusnya sebagai business owner sebagai pertanda kapan ia melepas status pekerjanya, Ryad Kusuma, pebisnis fesyen dan saham, menjadikan ukuran omzet sebagai indikator kapan ia bisa melepas status pekerjanya. Ia memutuskan mengucapkan selamat tinggal pada kantornya setelah toko-tokonya membukukan omzet Rp200 juta per bulan. Ryad yang tergabung dalam komunitas pebisnis Tangan di Atas (TDA) kini resmi menyandang status TDA. Sebelumnya, Ryad masih tergolong amfibi, alias pekerja yang juga pebisnis. Usaha sudah di tangan, tapi kemampuan dan nyali belum mumpuni sehingga belum cukup percaya diri untuk menanggalkan status orang gajian. Sebagian anggota TDA lainnya bahkan masih berstatus ‘tangan di bawah’ alias (TDB), mengandalkan gaji semata buat penghidupan mereka.

Namun, sebelum mantap membuat surat pengunduran diri, seorang pebisnis pemula minimal mesti memahami dasar manajemen bisnisnya dengan tekanan pada tata kelola pemasaran dan komunikasi bisnis. Ilmu dasar itu wajib dipelajari jika memang ingin usahanya berkembang dan jadi penopang utama kehidupan mereka. Namun, tidak harus punya pengetahuan dulu baru jadi pengusaha karena pelaku usaha biasanya belajar sambil praktik di lapangan.

“Semua harus dipelajari dengan cepat dan mengaplikasikannya dengan cepat pula,” kata Rosihan. Singkirkan pula mental blocking, yang menurut Yanti Isa, adalah kendala paling besar, bahkan melampaui keterbatasan modal.

Jadi, kapan Anda kirim surat resign?

Di-copy dari Koran Media Indonesia
Edisi Cetak : Minggu, 30 November 2008

KISAH CINTA DARI CHINA


Satu kisah cinta baru-baru ini keluar dari China dan langsung menyentuh seisi dunia. Kisah ini adalah kisah seorang laki-laki dan seorang wanita yang lebih tua, yang melarikan diri untuk hidup bersama dan saling mengasihi dalam kedamaian selama setengah abad.

Laki-laki China berusia 70 tahun yang telah memahat 6000 anak tangga dengan tangannya (hand carved) untuk isterinya yang berusia 80 tahun itu meninggal dunia di dalam goa yang selama 50 tahun terakhir menjadi tempat tinggalnya.
50 tahun yang lalu, Liu Guojiang, pemuda 19 tahun, jatuh cinta pada seorang janda 29 tahun bernamaXu Chaoqin ….

Seperti pada kisah Romeo dan Juliet karangan Shakespeare, teman-teman dan kerabat mereka mencela hubungan mereka karena perbedaan usia di antara mereka dan kenyataan bahwa Xu sudah punya beberapa anak….

Pada waktu itu tidak bisa diterima dan dianggap tidak bermoral bila seorang pemuda mencintai wanita yang lebih tua…..Untuk menghindari gossip murahaan dan celaan dari lingkungannya, pasangan ini memutuskan untuk melarikan diri dan tinggal di sebuah goa di Desa Jiangjin, di sebelah selatan Chong Qing.

Pada mulanya kehidupan mereka sangat menyedihkan karena tidak punya apa-apa, tidak ada listrik atau pun makanan. Mereka harus makan rumput-rumputan dan akar-akaran yang mereka temukan di gunung itu. Dan Liu membuat sebuah lampu minyak tanah untuk menerangi hidup mereka.

Xu selalu merasa bahwa ia telah mengikat Liu dan is berulang-kali bertanya,”Apakah kau menyesal?” Liu selalu menjawab, “Selama kita rajin, kehidupan ini akan menjadi lebih baik”.

Setelah 2 tahun mereka tinggal di gunung itu, Liu mulai memahat anak-anak tangga agar isterimya dapat turun gunung dengan mudah. Dan ini berlangsung terus selama 50 tahun.

Setengah abad kemudian, di tahun 2001, sekelompok pengembara (adventurers) melakukan explorasi ke hutan itu. Mereka terheran-heran menemukan pasangan usia lanjut itu dan juga 6000 anak tangga yang telah dibuat Liu.

Liu Ming Sheng, satu dari 7 orang anak mereka mengatakan, “Orang tuaku sangat saling mengasihi, mereka hidup menyendiri selama lebih dari 50 tahun dan tak pernah berpisah sehari pun. Selama itu ayah telah memahat 6000 anak tangga itu untuk menyukakan hati ibuku, walau pun ia tidak terlalu sering turun gunung.

Pasangan ini hidup dalam damai selama lebih dari 50 tahun. Suatu hari Liu yang sudah berusia 72 tahun pingsan ketika pulang dari ladangnya. Xu duduk dan berdoa bersama suaminya sampai Liu akhirnya meninggal dalam pelukannya. Karena sangat mencintai isterinya, genggaman Liu sangat sukar dilepaskan dari tangan Xu, isterinya.

“Kau telah berjanji akan memeliharakanku dan akan terus bersamaku sampai akan meninggal, sekarang kau telah mendahuluikun, bagaimana akan dapat hidup tanpamu?”

Selama beberapa hari Xu terus-menerus mengulangi kalimat ini sambil meraba peti jenasah suaminya dan dengan air mata yang membasahi pipinya.

Pada tahun 2006 kisah ini menjadi salah satu dari 10 kisah cinta yang terkenal di China, yang dikumpulkan oleh majalah Chinese Women Weekly.

Pemerintah telah memutuskan untuk melestarikan “anak tangga cinta” itu, dan tempat kediaman mereka telah dijadikan musium agar kisah cinta ini dapat hidup terus.

Sum